BENGKULU — Lahan pesisir yang selama ini dianggap sebagai area marginal dengan dominasi tekstur pasir dan kandungan organik minim, kini mulai dilirik sebagai lahan produktif. Tim Pengabdian dari Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu bersama personel Lanal Bengkulu baru-baru ini mempraktikkan budidaya melon varietas Intanon di kawasan pesisir Provinsi Bengkulu.
Program ini merupakan bagian dari skema "DiktiSaintek Berdampak" yang digagas UNIB. Tujuannya mempercepat diseminasi teknologi pertanian modern ke masyarakat melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan tinggi dan instansi militer.
Mengapa Melon Intanon Dipilih untuk Lahan Pasir?
Melon varietas Intanon dipilih bukan tanpa alasan. Ketua Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian UNIB, Prof. Dr. Ir. Alnopri, M.S., menyebut komoditas ini memiliki nilai ekonomis tinggi dengan siklus tanam yang relatif pendek, yakni sekitar 70 hari. Teknik budidayanya juga dinilai mudah dipelajari, sehingga cocok untuk diterapkan di lingkungan pesisir yang menantang.
Kondisi tanah di kawasan pesisir Bengkulu memang memiliki karakteristik spesifik. Tekstur pasir mendominasi dengan kapasitas pengikatan air dan unsur hara yang sangat rendah. Tanpa rekayasa lingkungan tumbuh, lahan seperti ini biasanya dibiarkan terlantar.
Demplot Jadi Model Pertanian Produktif
Program edukasi ini tidak sekadar teori. Tim pengabdian langsung mempraktikkan seluruh rantai siklus budidaya bersama personel Lanal Bengkulu, mulai dari persiapan lahan, penanaman, sistem pemeliharaan intensif, hingga manajemen pasca-panen. Hasilnya, lahannya kini menjadi kebun percontohan atau demplot melon unggulan yang mengonversi lahan berpasir steril menjadi kawasan hijau produktif.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi pemberdayaan ekonomi berkelanjutan di wilayah pesisir. Personel militer yang terlibat langsung dalam pelatihan diharapkan bisa menjadi agen penyebar teknologi pertanian tepat guna ke masyarakat sekitar.
Sinergi Kampus dan Militer untuk Ketahanan Pangan Lokal
Keterlibatan Lanal Bengkulu dalam program ini menunjukkan bahwa isu ketahanan pangan tidak hanya menjadi urusan sektor sipil. Dengan pendekatan kolaboratif, lahan marginal yang selama ini dianggap tidak bernilai justru bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Ke depan, demplot melon ini akan terus dipantau perkembangannya. Jika hasil panen sesuai target, bukan tidak mungkin model serupa akan direplikasi di titik-titik lain di sepanjang pesisir Bengkulu yang memiliki karakteristik lahan serupa.