BENGKULU — Puluhan personel TNI AD dari satuan Jihandak bersama petugas gabungan Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan menggelar operasi pengosongan rumah dinas di Komplek Jihandak, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi yang telah berlangsung sejak Juli 2024.
Direktur Pembinaan Umum Pusat Zeni AD, Kolonel CZI Nur Alam Sucipto, menyatakan proses pengosongan akan berlangsung selama lima hari. “Total yang kita akan laksanakan penertiban ini, sekarang sisa 107 kepala keluarga,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.
Penolakan Warga dan Kisah Lansia Eks Prajurit
Di tengah operasi, seorang ibu lansia berteriak histeris menolak pengosongan. Ia mengaku suaminya adalah mantan prajurit TNI AD yang pernah bertugas di Irian Jaya dan Timor Timur. “Hargai perjuangan suami saya, dia pergi (bertugas) ke Irian, ke Timtim (Timor Leste), sana pergi,” katanya dengan suara lantang.
Keluarga lansia itu meminta waktu untuk pindah secara mandiri. “Mindahinnya pakai duit, sana pergi,” ucapnya sambil terus menolak kedatangan petugas. TNI AD, menurut keterangan Kolonel Alam, tetap berusaha memberikan penjelasan secara humanis kepada warga yang menolak.
Sosialisasi Panjang Sejak 2024, 45 KK Sudah Mengosongkan
Alam menjelaskan, sosialisasi pengosongan rumah dinas sudah dimulai sejak 9 Juli 2024. Saat itu TNI AD memberikan pemahaman kepada warga tentang rencana pengembangan satuan dari kompi menjadi Detasemen Jihandak. Pengembangan itu membutuhkan sarana prasarana, termasuk tempat tinggal dan fasilitas lainnya.
“Pada 9 Juli 2024, memberikan sosialisasi kepada warga bahwa kita akan melaksanakan peningkatan pengembangan satuan dari Kompi menjadi Denzi Jihandak,” kata Alam. Sosialisasi berlanjut hingga 29 Agustus 2024. Setelah itu, warga yang masih bertahan diberikan surat peringatan pertama hingga ketiga pada 31 Juli 2025.
Dari total 152 kepala keluarga yang awalnya menghuni kompleks tersebut, sebanyak 45 KK telah mengosongkan rumah secara sukarela. “Kemarin dari jumlah 152 kepala keluarga yang awal itu dengan memberikan pemahaman kepada mereka, sehingga ada 45 kepala keluarga yang sudah mengosongkan,” terang Alam.
Rusun Prajurit dan Fasilitas Pengosongan
Rumah dinas yang dikosongkan akan digunakan untuk pembangunan rumah susun prajurit TNI AD. Luas lahan kompleks Jihandak mencapai 4,4 hektar, termasuk asrama yang saat ini dihuni warga. TNI AD menyediakan armada kendaraan untuk mengantar barang-barang warga ke tempat tujuan baru.
“Kita juga melaksanakan kegiatan secara humanis, menyampaikan kepada warga. Kemudian kita mengantar barang-barang mereka kepada tujuan yang akan mereka tempati, sehingga kita siapkan kendaraan, kita siapkan fasilitas yang ada, dari orang kesehatan juga kita siapkan,” ungkap Alam.
Operasi pengosongan hari pertama berjalan relatif kondusif meskipun sempat terjadi ketegangan. Sebanyak 660 personel gabungan dikerahkan untuk mengawal proses ini. TNI AD memastikan kegiatan akan berlangsung selama lima hari ke depan dengan tetap mengedepankan pendekatan persuasif.