REJANG LEBONG — Pemerintah daerah melalui BPBD setempat bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem pada 2026. Satu unit mobil tangki air bersih telah disiagakan untuk mendistribusikan bantuan ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Rejang Lebong, M. Budianto, menyatakan bahwa wilayahnya saat ini sudah mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau. Berdasarkan siklus normal, periode kemarau di daerah itu umumnya berlangsung dari April hingga Oktober.
"Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya," ujar Budianto dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Siaga Bencana Ganda: Kekeringan dan Karhutla
Selain menyuplai air bersih, BPBD Rejang Lebong juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Budianto menyebut pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), TNI, dan Polri untuk penanganan jika terjadi bencana tersebut.
"Antisipasi yang kita lakukan jika terjadi kekeringan adalah menyuplai kebutuhan air bersih. Kemudian, jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, kita bekerja sama dengan pihak Damkar, TNI, dan Polri," jelas dia.
Imbauan ke Warga: Bersihkan Drainase dan Jauhi Sempadan Sungai
Menyikapi fenomena perubahan cuaca ini, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan persiapan dini. Budianto menekankan pentingnya membersihkan saluran drainase di lingkungan masing-masing selama musim kemarau.
Menurutnya, penyumbatan drainase yang dibiarkan saat kemarau kerap menjadi pemicu utama terjadinya banjir akibat luapan air saat musim hujan tiba. Ia juga meminta warga tidak mendirikan bangunan di sempadan sungai atau kawasan yang masuk dalam zona rawan bencana.
"Kami juga mengharapkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak mendirikan bangunan di sempadan sungai atau kawasan yang masuk dalam zona rawan bencana," pesan dia.
Kapan Puncak Kemarau? BPBD Masih Menunggu Data BMKG
Meski telah menyiagakan peralatan, BPBD Rejang Lebong mengaku masih menunggu informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan durasi dan puncak musim kemarau tahun ini. Data tersebut akan menjadi acuan untuk langkah penanganan lebih lanjut.