JAKARTA — Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menegaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah tidak serta-merta mendorong cadangan devisa terus meningkat. Sepanjang Agustus 2026, rupiah menguat 1,66 persen ke level Rp17.722 per dolar AS di pasar spot, membaik dari posisi akhir Juli yang berada di Rp18.022 per dolar AS.
Meski ada perbaikan, pergerakan cadev tetap dipengaruhi arus modal asing, transaksi perdagangan, hingga pembayaran utang luar negeri pemerintah. Memasuki September 2026, posisi cadev diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan sedikit menurun.
Tekanan dari Harga Minyak dan Defisit Transaksi Berjalan
Kenaikan harga minyak global berpotensi menekan neraca perdagangan. Kebutuhan valuta asing domestik juga masih tinggi untuk memenuhi impor, sementara transaksi berjalan pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit 12,5 miliar dolar AS atau setara 3,3 persen dari PDB.
Irman menyebut pemulihan cadev terjadi secara gradual dan belum akan kembali ke level 156,5 miliar dolar AS yang tercatat pada akhir 2025.
Tiga Faktor Penentu Arah Cadangan Devisa
Ke depan, arah cadev akan ditentukan oleh sentimen risiko global, khususnya kebijakan The Fed dan imbal hasil US Treasury. Faktor kedua adalah perkembangan neraca eksternal domestik, termasuk neraca perdagangan dan posisi transaksi berjalan.
Terakhir, kebutuhan stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia serta transaksi valuta asing pemerintah turut memengaruhi posisi cadev. Langkah antisipatif terus dilakukan BI melalui penguatan kebijakan makroprudensial, dengan sinergi antara pemerintah dan bank sentral dijaga untuk memastikan likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap terjaga.
Buffer Masih Sehat, Setara 5,4 Bulan Impor
Fundamental cadev Indonesia dinilai cukup kuat. Posisi 146,5 miliar dolar AS setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yaitu tiga bulan impor.
"Fokus utama bukanlah kenaikan cadangan devisa setiap bulan, melainkan kecukupan levelnya untuk menyerap volatilitas eksternal," ujar Irman. Ia menambahkan bahwa buffer tersebut masih sangat sehat dan memadai untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ketahanan sektor eksternal Indonesia disebut tetap terjamin secara optimal. Para investor asing di pasar modal diyakini akan terus melirik aset finansial di tanah air, mengingat fundamental ekonomi yang kokoh serta komitmen otoritas terkait dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan domestik.