BENGKULU — Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengonfirmasi bahwa hasil uji produksi open flow sumur BNG-082 menunjukkan performa luar biasa. Produksi minyak yang mengalir secara natural (tanpa bantuan pompa) mencapai lebih dari delapan kali lipat target, sementara aliran gasnya empat kali lebih besar dari perkiraan awal.
"Alhamdulillah, ini good news. Sumur BNG-082 berhasil mencapai initial production 256 BOPD dan 5,5 MMSCFD secara natural. Capaian ini lebih dari delapan kali target minyak dan lebih dari empat kali target gas," ujar Djoko dalam keterangan resminya.
Sumur yang ditajak pada 17 Juli 2026 ini berlokasi sekitar 25 kilometer barat laut Kota Prabumulih. Pengeboran dilakukan secara berarah menggunakan Rig PDSI #42.3/D1500-UE hingga kedalaman akhir 2.549 meter measured depth (mMD).
Selain produksi yang tinggi, aspek operasional juga berjalan efisien. Seluruh rangkaian pengeboran dan uji produksi rampung dalam 32 hari—lebih cepat 4,6 hari dari rencana awal yang dipatok 36,6 hari. Dari sisi anggaran, biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar 5,33 juta dolar AS, atau baru 80,87 persen dari total otorisasi belanja (AFE) yang disetujui.
Djoko menekankan bahwa percepatan waktu pengerjaan tidak mengorbankan aspek keselamatan. "Yang tidak kalah penting, seluruh kegiatan berjalan aman dan selamat tanpa kecelakaan. Ini menunjukkan bahwa pencapaian produksi harus berjalan seiring dengan penerapan aspek keselamatan dan operasional yang baik," tegasnya.
Keberhasilan sumur BNG-082 membuktikan bahwa lapisan eksisting TAF-P2a di kawasan tersebut masih memiliki tekanan reservoir yang baik. Temuan ini membuka peluang serupa bagi pengembangan sumur-sumur lain di struktur Benuang yang selama ini mungkin dianggap telah memasuki fase penurunan produksi.
Pencapaian ini juga menjadi modal berharga bagi target produksi migas nasional. SKK Migas berharap momentum positif ini berlanjut pada program kerja lainnya hingga akhir 2026, mencakup kegiatan pengeboran, workover, well service, enhanced oil recovery (EOR), dan stimulasi sumur.
"Mohon dukungan dan doa agar sisa program pengeboran, workover, well service, EOR, dan stimulasi sampai Desember 2026 dapat memberikan hasil yang berlipat ganda dari target. Semoga Allah SWT juga selalu menjaga fasilitas produksi agar tidak terjadi unplanned shutdown," pungkas Djoko.
Keberhasilan PHR Zona 4 ini menjadi angin segar di tengah upaya pemerintah mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari. Dengan memaksimalkan potensi sumur eksisting melalui teknologi pengeboran berarah, efisiensi biaya tetap terjaga tanpa mengorbankan keselamatan kerja.