Pencarian

Pertamina Hulu Rokan Pengeboran 3 Sumur Appraisal Migas Non-Konvensional di Blok Rokan, Target Akhir 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 • 10:22:32 WIB
Pertamina Hulu Rokan Pengeboran 3 Sumur Appraisal Migas Non-Konvensional di Blok Rokan, Target Akhir 2026
Pertamina Hulu Rokan berencana mengebor tiga sumur appraisal migas non-konvensional di Blok Rokan pada akhir 2026.

BENGKULU — Jakarta — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memastikan akan melanjutkan pengeboran Migas Non-Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan. Tiga sumur appraisal alias sumur evaluasi akan dibor untuk mematangkan rencana pengembangan, dengan jadwal mulai bergerak di penghujung tahun 2026.

Direktur Utama PHR Muhammad Arifin mengatakan, tahap appraisal ini menjadi penentu apakah cadangan MNK di Blok Rokan layak diproduksi secara komersial. Jika hasilnya positif, PHR bisa menambah produksi dari lapisan serpih (shale) yang selama ini belum tersentuh teknologi konvensional.

Mengapa Baru Dieksekusi Sekarang?

Blok Rokan sebenarnya sudah berproduksi lebih dari delapan dekade. Sumur-sumur tua di sana mayoritas menyedot minyak dari reservoir konvensional yang makin menipis. MNK menawarkan harapan baru, tetapi teknologinya jauh lebih rumit dan mahal dibanding pengeboran biasa.

Butuh rekayasa horizontal drilling dan stimulasi hidraulik untuk memecah batuan serpih agar minyaknya mau mengalir. Karena itu, PHR tidak bisa terburu-buru. Studi bawah permukaan dan uji laboratorium terhadap sampel batuan dari sumur eksplorasi sebelumnya menjadi dasar penentuan titik bor appraisal.

Arifin menjelaskan, ketiga sumur itu nantinya akan menguji sebaran dan kualitas reservoir MNK di beberapa titik yang dianggap paling prospektif. Data yang dikumpulkan akan menjadi bahan finalisasi rencana pengembangan lapangan (plan of development/POD).

Blok Rokan dan Target Produksi Nasional

Blok Rokan adalah kontributor terbesar produksi minyak nasional, menyumbang sekitar seperempat dari total produksi minyak mentah Indonesia. Setiap penurunan produksi di blok ini langsung berdampak pada target lifting negara.

Pemerintah sendiri tengah mendorong eksplorasi MNK sebagai salah satu jurus menahan laju penurunan produksi alamiah. Potensi sumber daya MNK di Indonesia diperkirakan sangat besar, namun tingkat eksplorasinya masih minim dibanding negara-negara seperti Amerika Serikat.

Jika proyek appraisal ini berhasil, PHR akan menjadi salah satu pionir pengembangan MNK komersial di Indonesia. Keberhasilan ini sekaligus membuka peluang pengembangan serupa di wilayah kerja lain yang memiliki karakteristik geologi serupa.

Tantangan Biaya dan Teknologi

Kendala terbesar pengembangan MNK bukan hanya teknis, melainkan juga ekonomi. Biaya pengeboran sumur horizontal dengan stimulasi bisa berkali-kali lipat dibanding sumur vertikal konvensional. Harga minyak dunia yang fluktuatif pun ikut menentukan kelayakan investasi.

PHR menilai, dengan harga minyak saat ini, pengembangan MNK di Rokan masih masuk akal secara bisnis. Namun perusahaan tetap melakukan kajian ketat agar setiap dolar yang dikeluarkan memberikan nilai balik yang optimal bagi negara dan pemegang saham.

Bagi masyarakat Rokan Hilir dan sekitarnya, kelanjutan proyek ini berarti aktivitas ekonomi di sekitar lapangan tetap bergairah. Lapangan kerja dan kontraktor lokal yang selama ini bergantung pada operasional Blok Rokan bisa bernapas lega dengan adanya fase pengeboran baru ini.

Rencana pengeboran akhir 2026 ini menegaskan komitmen PHR menjaga Blok Rokan tetap produktif di tengah tantangan penuaan sumur. Keberhasilan MNK nantinya tidak hanya memperpanjang umur blok, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tekanan global terhadap transisi energi.

Follow bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks