BENGKULU — Dony Oskaria menegaskan tidak ada alasan bagi pasar untuk meragukan kesehatan bank pelat merah. Ia merujuk pada laporan keuangan publik yang menunjukkan pertumbuhan kredit solid dan kualitas aset terjaga.
“Fundamentalnya bank-bank kita itu dalam posisi yang terbaik hari ini. Bisa dilihat kok karena mereka bank terbuka,” ujar Dony yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN.
Data yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut menunjukkan pertumbuhan kredit bank-bank anggota Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) rata-rata mencapai 20 persen. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih kencang di kisaran 20 hingga 30 persen.
Likuiditas dan Risiko Kredit: LDR 88-90 Persen, Kredit Macet di Bawah 2 Persen
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Putrama Wahju Setyawan, yang juga Ketua Umum Himbara, memaparkan sejumlah indikator kunci. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) berada di level 88 hingga 90 persen, yang menunjukkan likuiditas tetap sehat.
“Selain itu juga loan loss reserve, credit cost juga terjaga, rata-rata NPL ada di bawah kisaran 2 persen,” kata Putrama. Angka kredit bermasalah (NPL) yang rendah ini menandakan kualitas aset perbankan BUMN masih solid di tengah tekanan ekonomi.
Dengan data ini, Putrama menilai kekhawatiran investor terhadap fundamental perbankan tidak berdasar. “Saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran,” tegasnya.
Isu Buyback Saham dan Langkah Pemerintah Selanjutnya
Pertemuan antara Danantara dan pimpinan sekuritas ini merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang lebih luas. Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad juga telah bertemu dengan jajaran Himbara, BP BUMN, dan Danantara untuk membahas gejolak pasar saham nasional.
Dony Oskaria juga menanggapi ramainya isu pembelian kembali saham (buyback). Menurutnya, buyback adalah praktik pasar yang wajar ketika harga saham tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
“Itu yang terjadi bahwa memang banyak saham-saham kita yang fundamentalnya sangat bagus,” ujarnya. Langkah buyback dinilai sebagai salah satu opsi untuk menjaga stabilitas pasar dan mengerek kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan BUMN seperti BRI, BNI, dan Mandiri.