Selama ini, sebagian besar pengguna hanya mengandalkan fungsi dasar Google Maps: memasukkan tujuan dan mengikuti suara. Di balik antarmuka yang tampak sederhana itu, Google menyembunyikan sejumlah kontrol gestur yang bisa mengurangi gangguan saat berkendara. Fitur-fitur ini bukanlah tambahan eksperimental, melainkan bagian inti dari aplikasi yang sudah tersedia sejak lama.
Zoom Satu Tangan dan Kembali ke Rute Otomatis
Salah satu gestur paling berguna adalah zoom satu tangan. Cukup usap layar dengan dua jari secara vertikal—ke atas untuk memperbesar, ke bawah untuk memperkecil. Gerakan ini menghilangkan kebutuhan menekan tombol plus-minus kecil yang merepotkan saat mobil melaju.
Fitur lain yang sering terlewat adalah tombol "kembali ke rute" yang muncul otomatis. Jika pengemudi menyimpang dari jalur, Google Maps langsung menghitung ulang rute baru. Namun, bila pengguna tetap ingin kembali ke rute semula, cukup ketuk tombol yang muncul di bagian bawah layar. Ini berguna di area dengan banyak jalur alternatif seperti di Jakarta atau Bandung.
Melihat Cuaca dan Lalu Lintas Seketika
Pengemudi bisa mengintip kondisi cuaca di sepanjang rute tanpa membuka aplikasi cuaca terpisah. Cukup ketuk ikon lapisan (layer) di pojok kanan atas, lalu pilih opsi cuaca. Informasi suhu dan curah hujan akan tampil langsung di peta.
Untuk melihat kemacetan, gestur yang sama bisa digunakan dengan memilih opsi lalu lintas. Jalanan akan berwarna hijau (lancar), kuning (padat), oranye (macet), atau merah (parah). Kombinasi kedua fitur ini sangat membantu pengemudi di kota-kota besar Indonesia yang rawan banjir dan kemacetan.
Bagi Lokasi Tanpa Ribet dan Laporkan Insiden
Berbagi lokasi secara real-time kini hanya butuh dua ketukan. Geser ke atas panel bawah yang menampilkan nama jalan dan estimasi waktu tiba, lalu pilih "bagikan perjalanan". Kontak yang dipilih akan bisa memantau posisi pengemudi hingga tiba di tujuan—fitur penting untuk keamanan perjalanan malam hari.
Fitur laporan insiden juga bisa diakses lebih cepat. Ketuk ikon plus (+) di samping kotak pencarian, lalu pilih jenis insiden: kecelakaan, kemacetan, atau polisi. Laporan ini langsung terlihat oleh pengguna Google Maps lain di area yang sama, menciptakan sistem peringatan komunitas yang efektif.
Suara Lebih Pelan Saat Telepon dan Cari SPBU Terdekat
Salah satu gestur paling cerdas adalah kemampuan mengecilkan volume suara navigasi secara otomatis saat pengemudi menerima telepon. Google Maps mendeteksi panggilan masuk dan mengurangi volume petunjuk arah agar tidak mengganggu percakapan. Setelah telepon selesai, volume kembali normal.
Untuk menemukan pom bensin atau rest area, pengguna tidak perlu mengetik manual. Cukup ketuk ikon pencarian di sudut kanan atas, dan Google Maps akan menampilkan deretan kategori populer seperti SPBU, restoran, dan ATM. Pilihan ini disesuaikan dengan lokasi dan waktu—misalnya, kafe lebih menonjol di pagi hari.
Seluruh gestur ini dirancang untuk meminimalkan interaksi fisik dengan layar. Semakin sedikit waktu pengemudi menatap ponsel, semakin besar konsentrasi pada jalan. Google Maps memang tidak akan pernah bisa menggantikan kewaspadaan pengemudi, tapi sembilan gerakan ini setidaknya membuat perjalanan di jalanan Indonesia yang padat sedikit lebih tertib.