Fenomena ini mengingatkan pada masa-masa buruk era COVID-19, ketika para gamer harus berburu kartu grafis dengan harga di atas harga eceran. Kini, penyebabnya bergeser. "Bukan pandemi global, ledakan kripto, atau krisis rantai pasok, melainkan permintaan komputasi AI yang belum pernah terjadi sebelumnya yang membuat perangkat keras PC menjadi tidak terjangkau bagi kebanyakan orang," tulis sumber berita tersebut.
Mengapa Ampere Masih Bertahan di Puncak Popularitas
Yang menarik, RTX 30 series—yang menggunakan arsitektur Ampere—tidak dianggap sebagai produk usang. Di pasar barang bekas, harga GPU ini dinilai masih wajar. Performanya pun masih kompetitif untuk gaming kelas menengah ke atas, apalagi dengan dukungan penuh fitur DLSS modern yang terus diperbarui Nvidia.
Kondisi ini kontras dengan lini RTX 40 series yang sulit ditemukan di pasaran, dan RTX 50 series yang banderolnya dianggap terlalu tinggi oleh banyak konsumen. Akibatnya, GPU bekas seri 30 menjadi satu-satunya opsi yang masuk akal secara finansial tanpa mengorbankan performa secara signifikan.
Data Steam Tidak Pernah Berbohong
Steam Hardware Survey edisi terbaru mengkonfirmasi tren ini. Tiga dari sepuluh GPU desktop terpopuler adalah kartu Ampere. Yang paling mencengangkan, GPU yang paling banyak digunakan di daftar tersebut masih berasal dari keluarga RTX 30 series. Ini menunjukkan basis pengguna yang loyal dan enggan beralih ke generasi lebih baru yang harganya tidak ramah di kantong.
Bagi pengguna PC di Indonesia, situasi ini membuka peluang. Pasar GPU bekas dalam negeri biasanya mengikuti tren global dengan jeda beberapa bulan. Jika pola ini berlanjut, mencari RTX 3060 Ti atau RTX 3070 bekas dalam kondisi baik bisa menjadi strategi paling cerdas untuk upgrade dalam waktu dekat.
Pelajaran dari Krisis Harga GPU
Siklus krisis harga GPU tampaknya tidak akan hilang dalam waktu dekat. AI telah menjadi pendorong utama permintaan chip, menggeser faktor-faktor seperti penambangan kripto. Produsen seperti Nvidia pun lebih fokus pada segmen data center yang marginnya lebih tinggi.
Bagi konsumen ritel, terutama gamer, ini berarti satu hal: realisme. Daripada memaksakan diri membeli GPU generasi terbaru dengan harga selangit, seri 30 series—terutama di pasar sekunder—menawarkan keseimbangan terbaik antara harga, performa, dan fitur. Data Steam hanyalah bukti bahwa banyak pemain global sudah mengambil keputusan itu.