Seorang pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya pertama kali membocorkan insiden ini kepada jurnalis Axios, Barak Ravid. The New York Times kemudian mengonfirmasi laporan tersebut melalui sumber anonim lainnya, termasuk satu pejabat yang mengakui bahwa tim investigasi militer AS masih bekerja untuk menentukan apakah tabrakan itu adalah hasil manuver tempur yang terencana atau sekadar kebetulan di tengah hiruk-pikuk pertempuran.
Senjata Rp30 Juta vs Helikopter Rp400 Miliar
Helikopter AH-64 Apache yang jatuh adalah salah satu aset paling mahal dan mematikan di arsenal AS. Banderolnya mencapai $25 juta per unit—atau sekitar Rp400 miliar jika menggunakan kurs estimasi Rp16.000 per dolar AS. Sebaliknya, drone Shahed yang menabraknya adalah pesawat nirawak searah (one-way attack drone) yang diproduksi massal dengan biaya sangat rendah.
Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026—saat AS dan Israel melancarkan serangan rudal besar-besaran ke Iran—ribuan drone Shahed telah ditembakkan ke berbagai sasaran di kawasan Teluk. Namun, target yang dihadapi biasanya bersifat statis: pusat data Amazon, fasilitas energi, atau kapal dagang yang bergerak lamban di Selat Hormuz.
Kecelakaan Beruntung atau Taktik Baru?
Pertanyaan kunci yang kini menggelitik para analis pertahanan adalah apakah tabrakan ini murni kebetulan. Drone Shahed—yang dirancang untuk meledak saat menghantam sasaran—tidak memiliki sistem pertempuran udara-ke-udara canggih seperti radar atau pelacak inframerah yang biasa digunakan untuk mencegat pesawat musuh.
“Kemungkinan besar drone itu sedang dalam misi menyerang target di darat atau laut, lalu secara tidak sengaja melintas persis di jalur terbang Apache,” kata seorang sumber militer kepada The New York Times. Namun, teori lain menyebutkan bahwa operator drone mungkin saja memanfaatkan kepadatan lalu lintas udara di Selat Hormuz untuk mencoba peruntungan—sebuah taktik yang jika berhasil akan menjadi mimpi buruk bagi pilot helikopter konvensional.
Konsekuensi untuk Superioritas Udara AS
Terlepas dari penyebab pastinya, insiden ini membuka celah serius dalam pertahanan udara AS. Apache adalah tulang punggung serangan darat jarak dekat, dan jika drone murah sekelas Shahed bisa menjatuhkannya, maka biaya perang di kawasan Teluk—yang sudah sangat mahal—akan melonjak drastis.
Angkatan Darat AS kini harus mengevaluasi ulang taktik operasi helikopter di zona konflik. Apakah penerbangan di ketinggian rendah yang selama ini dianggap aman karena sulit dideteksi radar justru menjadi jebakan maut ketika langit dipenuhi ribuan drone murah yang terbang tanpa pola jelas?
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hasil investigasi. Yang jelas, satu Apache senilai Rp400 miliar telah hilang—ditumbangkan oleh pesawat nirawak yang mungkin harganya tak sampai Rp30 juta.