BENGKULU — Setelah beberapa pekan terakhir harga telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga Rp15.000 per kilogram, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga komoditas ini mulai menunjukkan tren kenaikan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kenaikan harga terjadi seiring dengan peningkatan permintaan dari berbagai sektor.
Tiga Faktor Pemicu Kenaikan Harga Telur
Ketut menjelaskan, pemulihan harga telur tidak terjadi secara instan. Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong kenaikan ini. Pertama, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi dan menyerap telur dalam jumlah besar. Kedua, berakhirnya bulan Suro (Muharam) yang biasanya diikuti dengan penurunan konsumsi masyarakat. Ketiga, dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang meningkatkan permintaan lauk pauk bergizi untuk anak-anak.
Harga Peternak Masih di Bawah Level Ideal
Meski sudah naik, harga di tingkat peternak saat ini masih berada di bawah level yang dinilai ideal. Ketut menyebut harga ideal bagi peternak berada di kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. "Nah ini sudah tepat sekali dengan mulainya SPPG, bulan Suro sudah kita lewati, anak-anak sekolah sudah mulai masuk dan harga linier mulai naik," ujarnya dalam kunjungannya ke Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin.
Harga di Pasar Tradisional Bengkulu Tembus Rp31.300 per Kg
Sementara itu, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga rata-rata telur ayam ras di pasar tradisional terus bergerak. Pada 6 Juli 2026, harga rata-rata nasional tercatat Rp29.250 per kilogram, lalu turun tipis ke Rp29.000 per kilogram pada 14 Juli, sebelum kembali naik signifikan ke Rp31.300 per kilogram pada 20 Juli 2026. Kenaikan ini diperkirakan juga terjadi di pasar-pasar tradisional di Bengkulu, sejalan dengan tren nasional.
Pemerintah Jaga Harga Agar Tak Merugikan Peternak dan Konsumen
Ketut mengakui bahwa pemulihan harga telur berpotensi mendorong inflasi pangan. Namun, ia menegaskan bahwa selama harga masih bergerak di sekitar harga acuan, kondisi tersebut masih dalam koridor yang diharapkan pemerintah. "Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya terlalu jatuh sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita impor lagi," katanya. Pemerintah, lanjutnya, akan terus mengintervensi pasar jika harga terlalu rendah atau terlalu tinggi. "Pemerintah menjaga ritmenya. Jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Pada saat rendah intervensi, pada saat tinggi intervensi. Selama masih di harga acuan berarti masih bagus," ujarnya.