ARGA MAKMUR — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Arga Makmur kini melayani dua kabupaten, Bengkulu Utara dan Mukomuko, dengan beban hunian tiga kali lipat dari kapasitas. Data terbaru mencatat 714 warga binaan sebelum 21 narapidana dipindahkan pada Juli 2026, sementara bangunan hanya didesain untuk 218 orang. Kondisi ini mendorong Kalapas Yulian Fernando mencari mitra strategis untuk menyampaikan program pembinaan ke publik.
Mengapa Lapas Butuh Kemitraan Media?
Penandatanganan PKS dilakukan langsung oleh Yulian Fernando bersama Ketua AMJ Bengkulu Wibowo Susilo di kawasan Tanah Patah. Turut hadir jajaran pimpinan lapas, para pemimpin media online, jurnalis, dan konten kreator. Yulian menegaskan kerja sama ini untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka antara lembaga dan masyarakat.
"Berbagai program pembinaan, pelayanan, dan inovasi di Lapas Arga Makmur diharapkan tersampaikan secara luas, akurat, dan berimbang," ujar Yulian. Kolaborasi mencakup penyebarluasan informasi yang mendukung keterbukaan publik serta penguatan kinerja yang transparan dan akuntabel.
Ketahanan Pangan Jadi Program Prioritas
Selain publikasi, kerja sama ini menyasar program ketahanan pangan yang menjadi prioritas di lingkungan pemasyarakatan. Kegiatan produktif seperti bercocok tanam dan beternak dijadikan sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Keterampilan itu diharapkan bermanfaat setelah mereka kembali ke masyarakat.
Wibowo Susilo menyambut baik kepercayaan yang diberikan. Menurutnya, media harus menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi edukatif dan bertanggung jawab. "Kami siap mendukung program pembinaan warga binaan, termasuk ketahanan pangan yang memiliki manfaat nyata," kata Wibowo. Ia menambahkan sinergi antara media dan lembaga pemerintah penting untuk membangun kepercayaan publik.
Melalui kolaborasi ini, Lapas Arga Makmur dan AMJ Bengkulu berharap kinerja lembaga semakin informatif, akuntabel, dan berorientasi pada pembinaan. Masyarakat pun diharapkan mendapatkan gambaran utuh tentang upaya pemasyarakatan di tengah keterbatasan kapasitas hunian.