BENGKULU — Program revitalisasi lahan ini bukan sekadar proyek penghijauan. Di Pidie Jaya, ribuan meter persegi tanah yang sebelumnya terkubur material lumpur kini menghijau oleh tanaman bernilai ekonomi tinggi. Warga setempat mulai menuai hasil panen perdana mereka.
Dari Timbunan Lumpur ke Hamparan Hijau
Bencana alam beberapa waktu lalu meninggalkan genangan lumpur tebal di sejumlah titik di Pidie Jaya. Lahan pertanian warga rusak, mata pencaharian petani terhenti. Pertamina, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melihat potensi di balik lahan kritis tersebut.
Alih-alih membiarkan lahan terbengkalai, perusahaan energi pelat merah itu memulihkan struktur tanah dengan teknik rekayasa lingkungan. Lumpur dikeringkan, dicampur dengan pupuk organik, dan diolah menjadi media tanam yang subur. Hasilnya, lahan itu kini mampu ditanami komoditas unggulan seperti cabai merah, bawang merah, dan jagung hibrida.
Warga Kembali Panen, Ekonomi Bergerak
Dampak langsung program ini dirasakan oleh puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan Pertamina. Mereka tidak hanya mendapatkan akses lahan garapan, tetapi juga bibit unggul, pupuk, serta pendampingan teknis secara gratis.
“Kami bisa panen lagi. Hasilnya dijual ke pasar tradisional, harganya lumayan. Ini membantu banget buat biaya sekolah anak,” ujar seorang petani setempat. Hasil panen cabai dan bawang dari lahan tersebut sudah mulai memenuhi kebutuhan pasar lokal di Pidie Jaya dan sekitarnya, menekan harga yang sempat melonjak akibat pasokan terbatas.
Target Keberlanjutan dan Perluasan Lahan
Ke depan, Pertamina menargetkan perluasan area tanam hingga dua kali lipat dari luasan saat ini. Program ini juga akan diintegrasikan dengan pelatihan pengolahan pasca-panen, seperti pembuatan cabai kering dan bawang goreng, guna meningkatkan nilai jual produk petani.
Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana BUMN tidak hanya berfokus pada bisnis energi, tetapi juga mampu menjadi katalis pemulihan ekonomi masyarakat di daerah bencana. Lahan yang dulu dianggap sebagai beban kini berubah menjadi sumber penghidupan baru.