Kekhawatiran itu disampaikan Gaider dalam wawancara dengan GamesRadar pekan lalu. Ia menilai eksekutif studio terlalu bernafsu mengadopsi AI tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap rantai pasok talenta industri. "Bagaimana kita akan melatih generasi developer berikutnya jika kita menghilangkan semua tugas entry-level?" ujarnya.
AI Belum Siap, Tapi Bos Sudah Kepincut
Gaider tidak hanya menyoroti masalah kaderisasi. Ia juga meragukan kesiapan teknis AI generatif untuk dipakai di produksi game skala besar. Masalah utama ada pada inkonsistensi output—AI bisa menghasilkan aset yang tampak meyakinkan di satu sisi, tapi kacau di sisi lain tanpa alasan jelas.
"Proses memeriksa dan memperbaiki hasil kerja AI, tanpa tahu kenapa ia mengeluarkan output tertentu, pasti akan membuat frustrasi," kata Gaider. "Teknologi ini belum siap untuk prime time. Hanya saja, banyak eksekutif yang sangat menginginkannya."
Masalah Etis yang Tak Kunjung Usai
Selain soal teknis dan kaderisasi, Gaider juga menyoroti masalah perampasan data. Ia menolak argumen bahwa AI hanya dipakai untuk placeholder atau purwarupa awal. "Para seniman tidak pernah setuju data mereka dijarah," tegasnya.
Kekhawatiran serupa datang dari David Szymanski, kreator game Iron Lung dan Dusk. Ia mengaku tidak menentang AI secara kategoris, tapi menolak keras upaya mengabaikan masalah etis seperti plagiarisme, dampak lingkungan, dan keamanan kerja. Sementara itu, produser eksekutif Marvel Rivals, Danny Koo, mengatakan timnya sengaja menghindari alat AI untuk memastikan aset game tidak "terkontaminasi."
Reaksi Pemain Jadi Barometer Nyata
Skeptisisme terhadap AI bukan hanya datang dari internal studio. Reaksi negatif pemain terhadap game Crazy Taxi terbaru—yang menggunakan konten buatan AI—menunjukkan bahwa pasar juga mulai menolak praktik ini. Jika tren berlanjut, tekanan dari konsumen bisa menjadi faktor yang lebih kuat daripada peringatan dari developer.
Pertanyaan besar yang menggantung di industri: apakah eksekutif mau mendengar peringatan ini sebelum generasi baru developer benar-benar punah? Atau, seperti kata Gaider, mereka akan terus memaksakan teknologi yang belum matang demi efisiensi jangka pendek?