BENGKULU — Keputusan pemerintah memangkas subsidi motor listrik menjadi Rp 3 juta per unit untuk 1 juta unit dengan total anggaran Rp 3 triliun menuai respons dari pelaku industri. Public Relation & Event Executive Aismoli, Ririn Rinawati Sinaga, mengakui besaran insentif yang lebih kecil dari skema sebelumnya—yang pernah mencapai Rp 7 juta per unit—akan mengubah peta permintaan di pasar.
"Tentunya pasti akan berbeda pada saat diberikan insentif misalkan Rp 5 juta atau Rp 7 juta yang sebelumnya, karena kan bicara keterjangkauan. Pasti akan ada pengaruh," ujar Ririn dalam diskusi BIG Industrial Insight di Jakarta, Rabu (20/8/2026).
Kajian Dampak Penurunan Insentif terhadap Permintaan
Aismoli belum bisa memastikan besaran penurunan volume penjualan akibat perubahan nominal bantuan ini. Ririn menyebut asosiasi tengah meninjau ulang sejumlah riset yang pernah dilakukan bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk memetakan elastisitas harga terhadap minat beli konsumen.
"Sebenarnya sudah ada beberapa tools untuk mengukur kalau misalkan harganya Rp 5 juta itu berapa persen. Ada beberapa research kayak di UNS, itu kita sudah koordinasi juga. Nanti mungkin kita bisa relook, tapi pasti berpengaruh," kata dia.
Yang menjadi catatan penting bagi industri, lanjut Ririn, bukan sekadar nominal akhir yang ditetapkan pemerintah. Pelaku usaha lebih membutuhkan kepastian waktu eksekusi program agar bisa menyusun strategi penjualan dan produksi.
"Ya ikut saja ke pemerintah. Ya pasti bagi kami itu adalah satu kepastian. Ada Rp 3 triliun kapan? Itu saja," ucapnya.
Target Serapan Hanya 100.000 Unit hingga Akhir 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan skema baru ini di hadapan wartawan, Kamis (20/8/2026). Ia menjelaskan insentif Rp 3 juta tersebut khusus dialokasikan untuk motor listrik yang diproduksi di dalam negeri.
"Ya itu programnya jadi Rp 1 juta masing-masing Rp 3 juta," ujar Purbaya.
Dengan nominal yang lebih ramping, pemerintah memperkirakan serapan anggaran hingga akhir 2026 hanya mencapai 100.000 unit motor listrik. Angka ini jauh di bawah kapasitas program yang dirancang untuk 1 juta unit, sekaligus menjadi sinyal bahwa laju elektrifikasi roda dua tahun ini bakal berjalan lebih lambat dari target awal.
Kepastian mekanisme penyaluran dan jadwal pelaksanaan menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Tanpa kejelasan itu, efek psikologis penurunan insentif berpotensi membuat calon konsumen menunda pembelian—sebuah skenario yang ingin dihindari industri di tengah upaya membangun pasar kendaraan listrik nasional.