BENGKULU — Mogok kerja ini merupakan eskalasi dari serangkaian aksi parsial yang berlangsung selama berbulan-bulan setelah negosiasi upah gagal mencapai titik temu. Ketua serikat pekerja menaikkan durasi aksi dari empat jam menjadi delapan jam per shift, efektif menghentikan total produksi di semua lini perakitan Hyundai dan Kia di Korea Selatan.
Jeda Pensiun yang Menjerat Pekerja
Di balik tuntutan usia pensiun, ada celah sistemik yang menjadi akar masalah. Undang-undang Korea Selatan menetapkan batas usia pensiun di angka 60 tahun, namun manfaat pensiun baru bisa dicairkan saat pekerja menginjak usia 63 tahun.
Artinya, ada periode tiga tahun di mana pekerja kehilangan penghasilan tetap sekaligus belum menerima dana pensiun. Dengan memperpanjang masa kerja hingga 65 tahun, buruh ingin menghilangkan jeda finansial ini dan tetap produktif lebih lama.
Tekanan Penjualan Global di Tengah Aksi Buruh
Momentum mogok ini datang di saat yang tidak menguntungkan bagi Hyundai. Perusahaan sedang berjuang melawan perlambatan penjualan kendaraan global yang mulai menggerus margin keuntungan.
Selain isu usia pensiun, serikat pekerja juga menuntut kenaikan bonus sebesar 50 persen dari skema saat ini. Kombinasi tuntutan ini membuat manajemen berada di posisi sulit, antara menjaga stabilitas biaya produksi atau mengakhiri konflik yang berlarut-larut.
Ford Justru Pilih Jalan Kolaborasi dengan Geely
Di tengah ketegangan buruh di Korea, Ford mengambil arah berbeda di Eropa dengan menggandeng Geely. Pabrikan asal Amerika itu akan memproduksi crossover ringkas berbasis platform GEA (Global Intelligent Electric Architecture) milik Geely di Valencia, Spanyol.
Platform ini mendukung sistem penggerak listrik murni dan plug-in hybrid, dan sudah dipakai pada Geely EX5 serta Starray yang beredar di pasar Eropa. Menariknya, Renault juga akan memakai platform yang sama untuk dua model yang dirakit di Brasil.
Ford menjanjikan crossover ini hadir pada 2029 dengan karakter berkendara ala mobil reli, merujuk pada warisan model seperti Escort, RS200, dan Sierra Cosworth. Pertanyaannya, apakah hasil akhirnya akan segarang janji pemasarannya—atau sekadar tampil agresif tanpa performa yang sepadan.
China Paksa 11 Pabrikan Recall Masalah Tuas Pintu Darurat
Regulator China mengambil langkah besar dengan memerintahkan recall massal terbesar dalam sejarah otomotif negeri itu. Sebanyak 11 pabrikan, termasuk Tesla dan Xiaomi, wajib melakukan pembaruan perangkat lunak dan pemasangan label peringatan secara gratis.
Masalahnya bukan pada mekanisme pembuka pintu darurat yang rusak, melainkan lokasi tuas yang sulit ditemukan penumpang saat kondisi darurat. Banyak pengemudi EV yang tidak menyadari keberadaan tuas mekanis manual, karena terbiasa dengan sistem buka pintu elektronik.
Sebagian besar pabrikan akan memasang stiker penanda lokasi tuas darurat, disertai pembaruan over-the-air (OTA) untuk sistem kelistrikan pintu. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Beijing mulai memperketat pengawasan terhadap standar keselamatan kendaraan listrik secara menyeluruh.